TREADMILL TEST

administrator | 2017-11-17 08:42:56

Deteksi Dini hingga Rehabilitasi Penyakit Jantung Koroner

Oleh : dr. Arief Bowo Kurniawan, SpJP

          

              Penyakit jantung dan pembuluh darah hingga saat ini masih merupakan penyebab kematian dan ketidakmampuan menjalankan kehidupan sehari-hari dengan normal yang terbanyak di dunia. Menurut World Health Organization (WHO), kejadian kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah sekitar 17,3 juta di tahun 2008 dengan rerata prevalensi 30% dari seluruh kematian pertahun. Penyakit jantung koroner (PJK) menjadi penyebab kematian pada 38% sampai 46% seluruh kejadian kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah. Di Indonesia, prevalensi PJK adalah sebesar 1,5% atau sekitar 1,5 juta orang terdiagnosis PJK berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013.

              PJK adalah suatu penyakit dimana terjadi penyempitan pembuluh darah koroner yang salah satunya diakibatkan oleh terbentuknya plak aterosklerosis di dinding pembuluh darah tersebut. Manifestasi klinis dari PJK dapat Angina Pectoris Stabil (APS) ataupun Sindoma Koroner Akut (SKA) yang dikenal  dengan serangan jantung. Karena risiko kematian dan morbiditas penyakit ini yang tinggi, maka deteksi dini PJK dapat memberikan peluang menurunkan angka kematian penyakit ini karena pasien akan mendapatkan tatalaksana lebih dini. Pada pasien PJK dengan manifestasi klinis APS dengan gejala utama berupa  nyeri dada saat aktivitas ataupun stress emosional dan membaik dengan istirahat. Pasien dengan gejala klinis APS terkadang memiliki gambaran Electrocardiogram (ECG) yang normal. Di lain pihak, gejala nyeri dada bisa berupa nyeri dada angina yang tipikal, nyeri dada atipikal maupun nyeri dada non angina. Karena kondisi tersebut, maka European Society of Cardiology (ESC) memberikan panduan penegakan diagnosis pasien yang datang dengan keluhan nyeri dada dengan menghitung pre test probability (PTP) pasien tersebut. Pasien dengan nyeri dada yang memiliki PTP intermediete direkomendasikan menjalani tes non invasif salah satunya Treadmill Test. Nilai akurasi prediksi Treadmill Test adalah sekitar 70 %.

 

Peran Treadmill Test pada Penyakit Jantung Koroner

              Selain digunakan sebagai deteksi dini PJK pada pasien dengan keluhan nyeri dada dengan PTP intermediete, Treadmill Test juga dapat digunakan untuk menentukan stratifikasi risiko pasien PJK. Stratifikasi risiko yang dipakai pada pemeriksaan Treadmill Test adalah Duke Treadmill Score (DTS). Skor ini dapat dihitung dari hasil Treadmill Test pasien dan merupakan gambaran prediksi mortalitas 5 tahun kedepan. Pasien dengan skor DTS tinggi sangat direkomendasikan untuk dilakukan kateterisasi jantung untuk kemudian dilakukan pemasangan stent (ring) di pembuluh darah koroner yang tersumbat. Pasien dengan skor DTS sedang dapat hanya ditatalaksana dengan obat-obatan dapat pula kateterisasi jantung tergantung dari keputusan dokter jantung yang merawat. Sedangkan pasien dengan skor DTS rendah tidak memerlukan penanganan dengan kateterisasi jantung tapi cukup dengan obat-obatan. Sehingga Treadmill Test sangat bermanfaat untuk menentukan risiko pasien PJK dan tindak lanjut yang tepat pada pasien tersebut.

              Kegunaan penting lain dari Treadmill Test adalah sebagai penentu kapasitas fungsional dan rehabilitasi bagi pasien PJK yang telah mengalami serangan jantung (SKA). Sebagian pasien PJK paska SKA akan mengalami masalah pada aktivitas sehari-harinya. Pasien akan takut menjalani aktivitas atau olahraga paska SKA, kapan memulai aktivitas atau olahraga tertentu, dan tidak jarang pasien akhirnya mengalami keterlambatan melakukan aktivitas yang akhirnya berpengaruh bagi kehidupan psikososialnya. Treadmill Test dapat digunakan untuk menangani hal tersebut. Dari hasil Treadmill Test dapat ditentukan kapasitas fungsional maksimal pasien yang dapat dikonversikan dengan rekomendasi aktivitas atau olahraga yang aman bagi pasien tersebut. Selain itu, bagi pasien paska SKA dapat juga digunakan sebagai sarana rehabilitasi dengan memberikan dosis dan intensitas yang terprogram sehingga diharapkan pasien dapat segera melakukan aktivitasnya seperti sebelum mengalami serangan jantung.

              Jika telah ada sarana Cathlab, Treadmill Test merupakan fasilitas non invasif penting sebagai sarana evaluasi fungsional paska pemasangan stent (ring) pada pasien PJK. Oleh karena itu jelaslah bahwa Treadmill Test memiliki peran penting sebagai sarana penunjang bagi pasien PJK karena berperan sebagai alat diagnostik, prognostik dan rehabilitasi.

 

Tata Cara Treadmill Test

              Treadmill Test merupakan tindakan yang dilakukan dengan tujuan tertentu dan memiliki risiko tertentu sehingga pelaksanaan Tredmill Test harus dilakukan oleh dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah sehingga dapat dilakukan dengan risiko yang minimal dan mendapatkan tujuan pemeriksaan yang diinginkan. Pasien yang akan menjalani Treadmill Test akan diperiksa keadaan terakhirnya oleh dokter untuk menentukan apakah dapat menjalani Treadmill Test tersebut atau tidak. Persiapan Treadmill Test bagi pasien adalah dengan menjaga kondisi tubuh, tidak makan 1 jam sebelum Treadmill Test dan tidak mengkonsumsi obat-obatan tertentu yang akan mempengaruhi penilaian Treadmill Test.

              Treadmill Test memiliki beberapa metode seperti Bruce, Modified Bruce, Naughton dan lain-lain. Metode tersebut memiliki perbedaan dalam progresi kecepatan dan inklinasi sehingga memiliki tingkat pembebanan yang berbeda bagi pasien tersebut. Pemilihan metode yang digunakan akan ditentukan oleh dokter pemeriksa berdasar tujuan pemeriksaan, perkiraan kapasitas fungsional awal dan risiko pasien. Lama pemeriksaan akan bervariasi tergantung metode yang digunakan, lama pasien mencapai laju jantung yang ditargetkan, kekuatan fungsional pasien dan komplikasi yang muncul. Terdapat tiga tahap dalam Treadmill Test meliputi tahap persiapan yang berupa persiapan saat berbaring, berdiri maupun hiperventilasi kemudian tahap exercise yang berupa latihan diatas Treadmill dengan kecepatan bertahap dan tahap recovery yaitu pendinginan setelah exercise. Ketiga tahap tersebut memiliki makna pada hasil akhir pemeriksaan Treadmill Test sehingga pada ketiga tahapan tersebut pasien akan diamati rekam jantung, tekanan darah dan laju jantung nya.

              Saat ini, RSUD Sidoarjo telah memiliki 1 unit fasilitas Treadmill Test yang telah digunakan kemanfaatannya. Diharapkan dengan adanya fasilitas ini deteksi dini PJK di wilayah Sidoarjo dapat meningkat serta penanganan pasien PJK secara keseluruhan dapat lebih baik karena Treadmill Test juga memiliki peran dalam tatalaksana dan rehabilitasi pasien PJK yang mengalami SKA. Dengan adanya Cathlab nantinya, maka peran Treadmill Test dan pemeriksaan penunjang non invasif lainnya seperti Echocardiografi dan Cardiac CT Scan diharapkan dapat memberikan pelayanan yang paripurna bagi pasien PJK di RSUD Sidoarjo.

Komentar

Belum ada komentar

Tulis Komentar