BRONKITIS

| 2016-12-21 10:10:14

Oleh : dr. Detty Rahmawati, Sp.P

Infeksi saluran pernafasan akut dibedakan menjadi 2, yaitu infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan infeksi saluran pernafasan bawah (ISPB). Infeksi saluran pernafasan atas disebabkan oleh virus dan bakteri termasuk nasofaringitis atau common cold, faringitis akut, uvulitis akut, rhinitis, nasofaringitis kronis dan sinusitis. Sedangkan infeksi saluran nafas bawah merupakan infeksi yang didahului oleh infeksi saluran nafas atas yang disebabkan oleh infeksi sekunder antara lain oleh bakteri, virus, jamur dan protozoa yang menyerang saluran nafas bagian bawah seperti bronkus, bronkiolus dan parenkim paru

Infeksi saluran nafas bawah masih tetap merupakan masalah utama dalam bidang kesehatan, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Diseluruh dunia terdapat lebih dari 5 juta orang per tahun, 10 – 15 kematian per hari.

Infeksi saluran nafas bawah menggambarkan berbagai gejala dan tanda-tanda yang bervariasi sesuai tingkat keparahan. Gejala yang paling umum adalah batuk, apakah sebagai gejala baru atau perubahan gejala kronis, gejala lain meliputi produksi sputum, sesak nafas, mengi, nyeri dada dan demam

 

BRONKITIS AKUT

Meskipun bronkitis akut salah satu diagnosa yang umum dibuat pada pratek sehari-hari, namun belum ada definisi yang tepat. Diagnosis banding antara bronkitis akut dan pneumonia tidak selalu mudah ditegakkan dalam praktek sehari-hari. Diagnosa biasanya ditegakkan secara klinis.  Infeksi trakeobronkial tanpa pneumonia terdiri dari spektum dengan klinis yang berbeda antara bronkitis akut, bronkitis kronis dan bronkiektasis. Infeksi pada mukosa trakeobronkial menyebabkan keradangan lokal, peningkatan sekresi lendir dan kerusakan sel-sel bersilia. Kebanyakan kasus bronkitis akut biasanya disebabkan oleh virus (95%). Semua virus yang mempengaruhi saluran nafas atas seperti rhinovirus, coronavirus, respiratory syntitial virus, adenovirus, coxachivirus, virus influenza A dan B serta virus parainfluenza. Dalam dua studi untuk menegakkan diagnosa yang tepat, etiologi hanya 16% dan 29% ditemukan virus sebagai penyebab paling umum. Mycoplasma pneumonia dan chlamydia pneumonia mempunyai peran kecil pada penyakit ini. Namun M. pneumoniae mungkin menyebabkan lebih banyak kasus bronkitis dari pneumonia, dan C. pneumoniae mungkin merupakan penyebab penting dari bronkitis akut.

 

AKUT EKSASERBASI BRONKITIS KRONIS

Mendefinisikan akut eksaserbasi bronkitis kronis (AEBK) tidaklah mudah oleh karena tidak ada ciri khas pada pemeriksaan laboratorium, foto toraks maupun pemeriksaan fisik. Bronkitis kronis didefinisikan sebagai batuk kronis dan produksi sputum selama minimal tiga bulan selama dua tahun berturut-turut dan eksaserbasi dikaitkan dengan memburuknya batuk, peningkatan produksi sputum dan purulensi sputum.  Menurut Anthonisen et al, ada tiga kriteria klinis untuk menegakkan eksaserbasi bronkitis kronis yaitu peningkatan volume sputum, sputum purulen dan sesak yang bertambah. Seemungal et al, menggunakan kriteria mayor dan minor untuk mendefinisikan AEBK, kriteria mayor berdasarkan kriteria Anthonisen sedangkan kriteria minor meliputi sesak, sakit tenggorokan atau gejala flu seperti hidung tersumbat atau berair. Kriteria eksaserbasi bronkitis kronis meliputi 2 kriteria mayor, 1 mayor dan 1 minor sedikitnya dalam dua hari berturut-turut. Bronkitis kronis disebabkan terutama oleh merokok. Polusi udara, cuaca dingin dan basah, keturunan, infeksi saluran pernapasan bawah berulang, dan gangguan immunodeficiency (seperti hypogammaglobulinemia variabel umum atau kekurangan IgA terisolasi) memainkan peran pada beberapa pasien.

Dalam keadaan normal, trakeobronkial tree steril. Namun pada pasien dengan bronkitis kronis, saluran nafas bawah terkolonisasi oleh bakteri, terutama H. influenza, M. catarrhalis dan streptococcus pneumonia. Sekitar 50% terjadinya eksaserbasi berdasarkan kriteria Anthonisen, diyakini sebagian kecil disebabkan oleh virus dan sisanya akibat infeksi bakteri. Adanya paparan terhadap polutan atau bahan iritan (asap rokok atau debu) dan alergi dapat menimbulkan eksaserbasi. Eksaserbasi dapat menyebabkan rawat inap yang disertai dengan angka kematian rata-rata 4% pada pasien dengan penyakit ringan-sedang. Tetapi angka ini dapat lebih tinggi sekitar 24% jika terdapat komplikasi gagal nafas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa infeksi saluran nafas berulang pada masa anak-anak dapat mempertinggi risiko terjadinya bronkitis kronis.

 

DIAGNOSA

           

  • Anamnesa

Gejala utama dari infeksi saluran nafas bawah adalah batuk. Pada bronkitis, batuk kering menandakan adanya keradangan awal pada saluran udara bagian atas, sering berkembang menjadi batuk yang produktif dalam jumlah sedang dengan sputum mukopurulen dimana onset biasanya didahului oleh prodormal minimal 24 jam dengan gejala coryza dan faringitis.

 

  • Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dada tergantung dari luas lesi di paru. Tidak ada tanda yang khas pada pemeriksaan fisik pada bronkitis akut maupun kronis dan biasanya pasien jarang terlihat sakit kecuali terdapat komplikasi pneumonia. Pada bronkitis, auskultasi dapat terdengar ronkhi dengan mengi tetapi tidak didapatkan konsolidasi.

 

  • Pemeriksaan Penunjang   

a. Laboratorium

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan jumlah lekosit dan pada hitung jenis lekosit didapatkan pergeseran kekiri serta terjadi peningkatan LED. Pemeriksaan C-reaktif Protein (CRP) adalah tes terbaik untuk membedakan antara pneumonia dan infeksi saluran nafas bawah-non pneumonia.

b. Foto Toraks

Foto toraks merupakan pemeriksaan penunjang utama untuk menegakkan diagnosa serta juga dapat untuk membedakan infeksi saluran nafas bawah yang lain. Pada bronkitis  tidak terdapat tanda-tanda konsolidasi dan tidak ada gambaran infiltrat pada foto toraks.

                       bronkitis1  bronkitis2

                                                                               X-ray  :  Chronic bronchitis

 c. Spesimen dahak

Spesimen yang dapat digunakan untuk mendiagnosa etiologi dari infeksi saluran nafas bawah antara lain berasal dari sputum (dahak), aspirasi trakeobronkial, bilasan bronkus dan bilasan trakea. Sputum purulen bukan suatu nilai prediktif untuk membedakan penyebab infeksi oleh karena virus atau bakteri. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan kultur tidak membantu dalam membedakan penyebab infeksi yang berasal dari saluran nafas atas atau saluran nafas bawah. Namun beberapa pendapat menyatakan bahwa tes tersebut harus dilakukan untuk identifikasi organisme penyebab.  

 

PENATALAKSANAAN

 

  • Bronkitis Akut

Pemberian antibiotik belum menunjukkan manfaat yang konsisten pada kasus bronkitis akut. Beberapa laporan menunjukkan bahwa 65-80% pasien dengan bronkitis akut mendapatkan antibiotik meskipun ada bukti yang menunjukkan tidak efektif kecuali pada kasus bronkitis akut yang dicurigai suatu pertusis. Pemberian antibiotik pada bronkitis akut direkomendasikan pada pasien dengan  risiko komplikasi serius dan adanya penyakit komorbid (diabetes mellitus, gagal jantung kongestif)

 

  • Infeksi Akut Eksaserbasi Bronkitis Kronis

Pemberian antibiotik digunakan untuk memperbaiki AEBK, mencegah eksaserbasi dan mencegah perburukan fungsi paru jangka panjang. Sejumlah percobaan telah dilakukan dengan hasil yang cukup konsisten bahwa antibiotik tidak mengurangi angka kejadian AEBK tetapi mengurangi jumlah hari yang hilang dari pekerjaan. Terapi bronkodilator dapat diberikan untuk mengurangi sesak nafas. Pemberian steroid secara sistemik selain mempercepat pemulihan juga menurunkan kekambuhan dan memperlama terjadinya eksaserbasi

 

PENATALAKSANAAN SECARA UMUM

 

  • Obat batuk
  • Berhenti merokok (smoking cessation)
  • Imunisasi

 

 

Komentar

Belum ada komentar

Tulis Komentar