Mengenal Lebih Dekat Tentang Buta Warna

| 2016-01-25 00:00:00

Buta warna adalah istilah umum untuk gangguan persepsi warna. Penderita buta warna kesulitan membedakan nuansa warna atau buta terhadap warna tertentu. Buta warna tidak dapat disembuhkan. Menurut statistik, sekitar 5-8 %  laki-laki dan 0,5% perempuan menyandang buta warna.

Banyak orang yang tidak menyadari dirinya buta warna. Hal ini karena mereka umumnya bukan tidak dapat melihat suatu warna, tetapi hanya kesulitan membedakan nuansanya. Namun, sebenarnya mereka bisa menyadarinya dari masalah-masalah yang sering dihadapi. Hal yang sederhana pada orang lain seringkali menjadi masalah bagi mereka. Misalnya, ketika harus memilih sepasang kaus kaki dari kaus kaki lain yang warnanya mirip atau membedakan warna kabel. Mereka juga mungkin sering menggunakan warna mencolok karena ketidakpekaan terhadap warna.

 

Apa penyebab terjadinya Buta Warna ?

 

Gangguan Penglihatan Warna  Kongenital / Bawaan /Keturunan/Herediter

Gangguan penglihatan warna kongenital / bawaan/ keturunan, terjadi sejak proses kelahiran, umumnya merupakan buta warna merah hijau.

Buta warna merupakan kelainan warisan / genetika yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya, kelainan ini sering juga disebut sex linked, karena kelainan ini dibawa oleh kromosom X. Artinya kromosom Y tidak membawa faktor buta warna. Hal inilah yang membedakan antara penderita buta warna pada laki-laki dan perempuan. Pada  perempuan terdapat istilah pembawa sifat/ “carrier”.  Perempuan mempunyai kromosom XX, sedangkan pada pria mempunyai kromosom XY.  Bila pada seorang wanita hanya mempunyai 1 kromosom X yang membawa sifat buta warna, maka perempuan ini merupakan  pembawa sifat / “carrier” dimana secara fisik tidak mengalami kelainan buta warna  tetapi wanita dengan pembawa sifat berpotensi menurunkan faktor buta warna kepada anaknya kelak. Apabila pada kedua kromosom X mengandung faktor buta warna maka seorang wanita tersebut menderita buta warna dan bila hal ini terjadi, maka anak laki-lakinya juga pasti buta warna karena dia mewarisi kromosom X  dengan faktor buta warna dari ibunya. Selain karena keturunan, buta warna dapat disebabkan karena mutasi gen opsin pada kromosom X.

Gambar Pedigree Buta Warna Kongenital

Gangguan Penglihatan Warna Akuisita / Didapat

Bila gangguan penglihatan buta warna kongenital umumnya buta warna merah hijau, maka gangguan penglihatan warna akuisita yang sering adalah buta warna biru kuning. Gangguan akuisita seringkali asimetris dan cenderung tidak stabil. Contoh penyakitnya antara lain :

a.     Degenerasi makula

Makula yang mengalami degenerasi menimbulkan kerusakan foto pigmen sel kerucut pada makula dan menyebabkan penurunan tajam penglihatan serta gangguan warna.

b.     Retinopati diabetikum

Vaskularisasi yang buruk berarti aliran oksigen untuk metabolisme dan nutrisi di retina terganggu pada retinopati diabetikum. Hal ini menyebabkan kematian sel kerucut sehingga foto reseptor berkurang. Akhirnya merusak tajam penglihatan dan penglihatan warna. Gangguan penglihatan yang terjadi biasanya defisiensi warna biru kuning.

c.      Migrain

Terjadinya perubahan aliran darah ke otak dapat menimbulkan gangguan penglihatan. Spasme pembuluh darah (vasokonstriksi) menyebabkan peredaran oksigen ke foto reseptor berkurang. Hal ini menyebabkan distorsi penglihatan warna.

d.     Glaukoma

Kehilangan penglihatan pada Primary Open Angle Glaucoma (POAG) terjadi kematian sel ganglion retina, mungkin akibat apoptosis. Aspek yang penting pada gangguan penglihatan warna pada POAG adalah adanya distorsi warna biru kuning.

e.     Neuropati optik

Gangguan saraf optik dapat disebabkan inflamasi (neuritis optik) atau kelainan yang bukan disebabkan inflamasi seperti neuropati optik akibat intoksikasi alkohol dan antibiotik misalnya: etambutol, defisiensi vitamin B, atau bahan toksik.

f.      Katarak

Pada katarak, lensa mengalami sklerosis, sehingga secara selektif mengabsorbsi cahaya dengan gelombang pendek warna biru dan hijau kemudian secara bertahap akan menjadikan kedua warna ini sulit dibedakan

g.     Cedera otak atau stroke

Cedera otak atau stroke dapat mengganggu pengolahan warna di otak.

 

Bagaimana  Proses Terjadinya ?

Retina terdiri atas sel batang yang peka terhadap hitam dan putih, serta sel kerucut yang peka terhadap warna lainnya. Buta warna terjadi ketika saraf reseptor cahaya di retina mengalami perubahan, terutama sel kerucut, dimana sel-sel kerucut mata tidak mampu menangkap suatu spektrum warna tertentu yang disebabkan oleh faktor genetis.

Retina mata memiliki hampir tujuh juta sel fotoreseptor yang terdiri dari dua jenis sel– sel batang dan sel-sel kerucut yang terkonsentrasi di bagian tengahnya yang disebut makula. Sel batang sangat sensitif terhadap cahaya dan dapat menangkap cahaya yang lemah seperti cahaya dari bintang di malam hari, tetapi sel itu tidak dapat membedakan warna. Berkat sel batang kita dapat melihat hal-hal di sekitar kita di malam hari, tetapi hanya dalam nuansa hitam, abu-abu, dan putih. Sel kerucut dapat melihat detail obyek lebih rinci dan membedakan warna tetapi hanya bereaksi terhadap cahaya terang. Kedua jenis sel tersebut berfungsi saling melengkapi sehingga kita bisa memiliki penglihatan yang tajam, rinci, dan beraneka warna.

 

Ada 3 jenis sel kerucut pada retina,  yaitu sel kerucut dengan  3 macam pigmen yang dapat membedakan warna dasar merah, hijau dan biru.

1)      Sel kerucut yang menyerap long-wavelength light (red)

2)      Sel kerucut yang menyerap middle- wavelength light (green)

3)      Sel kerucut yang menyerap short-wavelength light (blue)

Mereka masing-masing berisi pigmen visual (opsin) yang berbeda sehingga bereaksi terhadap panjang gelombang cahaya yang berbeda: merah, hijau dan biru. Sel kerucut menangkap gelombang cahaya sesuai dengan pigmen masing-masing dan meneruskannya dalam bentuk sinyal transmisi listrik ke otak. Otak kemudian mengolah dan menggabungkan sinyal warna merah, hijau dan biru dari retina ke tayangan warna tertentu. Karena perbedaan intensitas dari masing-masing warna pokok tersebut, kita dapat membedakan jutaan warna. Gangguan penerimaan cahaya pada satu jenis atau lebih sel kerucut di retina berdampak langsung pada persepsi warna di otak. Seseorang yang buta warna memiliki cacat atau kekurangan satu atau lebih jenis sel kerucut.

 

Klasifikasi

Buta warna sendiri dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu trikromasi, dikromasi, dan monokromasi.

1.     Trikomasi

Buta warna jenis trikomasi adalah perubahan sensitifitas warna dari satu jenis atau lebih sel kerucut. Jenis buta warna ini paling sering dialami dibandingkan jenis buta warna lainnya. Ada tiga macam trikomasi yaitu:

  • Protanomali yang merupakan kelemahan warna merah.
  • Deuteromali yaitu kelemahan warna hijau.
  • Tritanomali yaitu kelemahan warna biru.

2.     Dikromasi

Dikromasi merupakan tidak adanya satu dari 3 jenis sel kerucut, tediri dari:

  • Protanopia yaitu tidak adanya sel kerucut warna merah sehingga kecerahan warna merah dan perpaduannya berkurang.
  • Deuteranopia yaitu tidak adanya sel kerucut yang peka terhadap hijau.
  • Tritanopia yaitu tidak adanya sel kerucut yang peka untuk warna biru.

 3.     Monokromasi

Sedangkan monokromasi ditandai dengan hilangnya atau berkurangnya semua penglihatan warna, sehingga yang terlihat hanya putih dan hitam pada jenis tipikal dan sedikit warna pada jenis atipikal. Jenis buta warna ini prevalensinya sangat jarang.

Trikromasi dan Dikromasi sering disebut sebagai buta warna parsial, sedangkan Monokromasi sering disebut buta warna total.

 

 

PEMERIKSAAN

Beberapa alat yang digunakan untuk pemeriksaan buat warna antara lain:

a.     Ishihara test

Tes Ishihara adalah tes buta warna yang dikembangkan oleh Dr. Shinobu Ishihara. Tes ini pertama kali dipublikasi pada tahun 1917 di Jepang. Sejak saat itu, tes ini terus digunakan di seluruh dunia sampai sekarang.

Tes buta warna Ishihara terdiri dari lembaran yang didalamnya terdapat titik-titik dengan berbagai warna dan ukuran. Titik berwarna tersebut disusun sehingga membentuk lingkaran. Warna titik itu dibuat sedemikian rupa sehingga orang buta warna tidak akan melihat perbedaan warna seperti yang dilihat orang normal (pseudo-isochromaticism). Tes ini merupakan test yang paling umum digunakan untuk dalam kasus buta warna

Ishihara Tes  merupakan kumpulan kartu bergambar yang tersusun dan bintik-bintik berwarna, sering digunakan untuk mendiagnosa defisiensi warna merah-hijau. Gambarnya biasanya berupa satu atau lebih angka yang tersusun dari bintik-bintik di antara bintik-bintik warna lain yang sedikit berbeda dan dapat dilihat dengan mata normal, tapi tidak bisa pada defisiensi sebagian warna. Setiap kartu memiliki bermacarn-macam gambar dan latar belakang dengan wama yang berkombinasi, dan dapat digunakan untuk mendiagnosis kelainan sebagian penglihatan yang ada. Tes Ishihara secara relatif dapat dipercaya dalam membedakan antara defisit warna merah dan defisit warna hijau, tetapi cara ini dipengaruhi oleh kemampuan malihat dua angka berwama.

Beberapa contoh plate pada test Ishihara :

Baik orang normal maupun penderita buta warna dapat membaca angka 12 ini pada test Ishihara. Penderita buta warna total hanya dapat membaca angka ini pada test Isihara

Angka 8 yang terbaca oleh orang normal,  terbaca sebagai angka 3 pada penderita buta warna parsial, sedangkan angka 29 yang terbaca oleh orang normal, pada penderita buta warna parsial sebagai angka 70.

b.      Pseudoisochochromatic Plate test

Test ini digunakan terutama untuk memeriksa adanya kelainan melihat warna pada anak-anak usia 3-6 tahun. Kebanyakan anak-anak usia 3 tahun sudah dapat menyebutkan macam-macam bidang bangunan yang sederhana secara mudah seperti lingkaran, kotak. Bintang dan lain-lain.

Jika dengan pemerisaan di atas seorang anak tidak dapat menyebutkan gambar tersebut, maka digunakan gambar dengan warna hitam-putih dan mencocokkan gambar dengan berbagai macam warna yang berbeda. Dengan gambar di atas, seorang anak dituntun untuk mengenal gambar apa yang tertera.

c.       Color Pencil Disrimination

Tes ini dapat digunakan untuk memeriksa ada tidaknya defisiensi melihat warna terhadap anak-anak yang lebih besar dan sudah bersekolah. Terlihat saat seorang anak sulit membedakan macam warna dan pensil warna yang begitu banyak.

d.      Holmgren-Thompson wool test for color blindness

e.       Anomaloscope

Digunakan untuk menemukan defisiensi sebagian warna, selain itu juga digunakan untuk mediagnosa kelainan trikromat.

Merupakan alat yang paling baik mempersepsikan warna dengan melibatkan perubahan dan terangnya suatu warna merah dan hijau, yang dicocokkan dengan standar cahaya kuning atau “standard yellow”. Pemeriksaan ini dapat menentukan dengan lebih pasti adanya gangguan penglihatan warna merah dan hijau.

f.        Tes Farnsworth-Munsell dll

 

Jangan mengandalkan tes sendiri

Beberapa situs di internet menawarkan tes buta warna secara online. Meskipun mungkin bermanfaat bagi Anda untuk mendapatkan gambaran namun tes semacam itu tidak boleh terlalu diandalkan. Pengaturan gamma, setting warna, kontras monitor komputer, dan cahaya latar berbeda dapat membuat hasilnya berbeda. Untuk mendapatkan hasil yang dapat diandalkan, anda sebaiknya  menemui dokter spesialis mata.

 Apakah Buta Warna bisa diobati ??

Secara umum tidak ada pengobatan untuk buta warna baik buta warna herediter maupun didapat. Banyak orang buta warna yang mengembangkan sistem dimana  mereka dapat   belajar mengenal warna dalam arti yang berbeda. Beberapa orang belajar untuk mengenal warna melalui kecerahan dan lokasi. Cara lain adalah dengan  memperbesar atau mengganti kode warna. Warna merah muda diubah menjadi lebih terang dan besar.

Meskipun ada beberapa kacamata dan lensa kontak berwarna yang dapat membantu orang yang buta warna untuk membedakan warna secara lebih baik, namun tidak dapat memperbaiki penglihatan seperti normal. Bila curiga buta wama, segera konsul ke dokter mata sesegera mungkin.

Pada buta warna ringan diajarkan untuk mengenal warna dengan benda dan biasanya dapat mengenal warna seperti orang yang normal. Meskipun mereka tidak dapat memahami warna seperti layaknya orang normal.

Buta warna memang dapat menggangu aktifitas sehari-hari,  contohnya  ketika memilih jurusan di perguruan tinggi atau mencari pekerjaan dimana salah satu persyaratannya adalah  lolos tes buta warna misalnya berkaitan dengan bidang elektro dan kimia, tetapi yang perlu dicatat adalah kondisi  buta warna tidak mengurangi kecerdasan dan potensi seseorang. Hal terpenting adalah bagaimana penderita buta warna bisa menerima kondisinya dan memilih bidang pendidikan profesi maupun pekerjaan yang sesuai dengan kondisinya tersebut.

Pada pasien yang gagal dalam tes buta warna dapat diarahkan untuk melakukan tes lebih spesifik sehingga dapat melakukan pekerjaan sesuai dengan keterbatasannya.

 

Pencegahan

Buta warna kongenital dapat dicegah melalui konsultasi pranikah / “premarriage concelling”, dengan menghindari pernikahan antara wanita dan pria yang mempunyai faktor buta warna pada kromosom X nya atau melihat pedigree dari status keluarga yang menderita buta warna.

 

 

 

Oleh : dr. Pinky Endriana H, SpM

Komentar

Belum ada komentar

Tulis Komentar