PEER PRESSURE (Tekanan dari teman sebaya) PADA REMAJA

administrator | 2018-02-14 13:30:36

Oleh : dr. Liana Nurhayati,SpKJ.

 

Seiring dengan bertambahnya usia dan semakin meningkatnya tingkat akademik, remaja seringkali menghadapi tekanan dari teman sebaya. Kadang seorang remaja bisa melakukan apa pun agar tetap diterima teman-temannya, agar tidak dikucilkan, tidak dipandang rendah ataupun ditolak. Padahal perilaku tersebut bertentangan dengan karakternya, tidak sesuai dengan nilai- nilai ataupun nasihat orang tua.

Peer pressure bisa diartikan sebagai  perasaan  di mana seseorang harus melakukan hal yang sama seperti orang lain pada usia dan kelompok sosial tertentu agar disukai atau dihargai. Peer pressure bisa memberi pengaruh yang kuat dalam suatu kelompok, di mana anggotanya akan berperilaku seperti yang lain.

Remaja diharapkan mampu mengembangkan fungsi sosialnya, tidak menutup kemungkinan remaja akan mempunyai banyak teman. Mereka akan saling mendengarkan, saling mempengaruhi satu dengan yang lain dengan tidak disadari hanya dengan menghabiskan waktu bersama.

Penyebab peer pressure.

Penyebab peer pressure dihubungkan dengan “perilaku yang sesuai dengan usia”. Remaja mempunyai keinginan yang kuat untuk fit in ( menyesuaikan diri ) dengan teman sebaya dan bisa diterima oleh mereka.

Beberapa anak “menyerah” berada dalam peer pressure karena ingin disenangi, ingin dihargai kelompok itu  atau khawatir anak - anak lain akan mengganggunya bila tidak mempunyai kelompok.

Pengaruh peer pressure

Pada saat seseorang anak atau sekelompok anak mempengaruhi seorang anak lain untuk berbuat sesuatu, itu bisa disebut peer pressure. Remaja SMP maupun SMA merokok, minum alkohol, membolos, berbohong pada orang tua, pacaran, dilakukan karena teman-teman lain melakukannya. Pemikiran bahwa setiap anak melakukan hal itu menyebabkan mereka juga ingin melakukan tanpa  pemahaman yang lebih baik.

Meskipun demikian peer pressure bisa memberikan pengaruh positif. Sekelompok remaja bisa menunjukkan perilaku baik. Seorang remaja bisa mengagumi temannya yang cerdas dan mengajari cara yang  mudah dalam menghafal tata surya.  Atau anak-anak  tertarik dengan buku yang sedang dibaca teman yang lain sehingga sekarang semua membaca buku favorit  itu.

Apa yang  harus dilakukan.

Bila peer pressure  negatif, remaja harus bisa mengatakan” tidak”. Beberapa remaja tidak mampu menyampaikan karena takut kehilangan persahabatan dengan salah satu leader (pemimpin) di kelompok tersebut atau takut kehilangan status.

Remaja harus  memiliki  perasaan dan keyakinan apa yang benar  dan salah. Jika sekelompok anak menolak seorang anak karena tidak mau berperilaku seperti mereka, maka anak tersebut harus cukup kuat untuk meninggalkan kelompok itu dan memilih teman sebaya lain yang berperilaku positif.

Anak-anak perlu bicara dengan orang dewasa yang dapat dipercaya bila menghadapi tekanan dari teman sebaya. Berbicara dengan orang tua, guru di sekolah dapat membantu anak merasa lebih baik.

Orang tua pun  perlu tahu teman- teman anaknya, membantu anak-anak mendapat teman yang memberi pengaruh baik, memberi pengertian tentang seperti apa teman yang baik.

                Anak- anak bisa mencari dan tetap sibuk dengan aktivitas yang sehat di sekolah, mengikuti kegiatan olahraga, kelompok drama, musik atau lainnya.

Bila sudah berusaha menghadapi tekanan tetapi tampaknya belum menunjukkan hasil, seorang anak, remaja tentunya dengan sepengetahuan orang tua, bisa mendatangi Psikiater.

 

Referensi:

Lyness, D, 2015. Peer Pressure. [online] TeensHealth.org.

American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, 2012. Peer Pressure. Facts for Family, (104).

Komentar

Belum ada komentar

Tulis Komentar