Penerimaan Pegawai BLUD NON PNS
RSUD Kab. Sidoarjo Tahun 2018

TERAPIĀ  GIZIĀ  PADA PENDERITA HEPATITIS

| 2016-12-21 10:16:00

OLEH  :  Pudji Astutik, SKM. M.Kes

Maraknya kasus Hepatitis menjadi perhatian berbagai pihak karena penyakit ini sangat mudah menular sehingga dapat mengurangi produktivitas kerja. Hepatitis merupakan peradangan hati akibat infeksi virus. Serangan virus hepatitis ini sangat cepat dan penularan umumnya melalui makanan dan minuman. Penderita hepatitis biasanya memiliki keluhan seperti kurang nafsu makan, lemas, mual, kadang-kadang muntah, kembung, diare, sakit kepala, dan kuning (jaundice). Pada hepatitis akut, mual dan kurang nafsu makan umumnya hanya dalam waktu singkat. Warna kuning (jaundice) disebabkan kadar bilirubin yang berlebihan, namun warna-warna kuning tersebut kadang-kadang tidak muncul.

Fungsi utama dari hati atau liver adalah menyaring racun-racun yang ada pada darah. Selain itu, masih ada sekitar 500 fungsi lain dari hati. Jika seseorang menderita hepatitis, yang merupakan peradangan pada hati atau liver ini, maka hal ini dapat menghancurkan kesehatan orang tersebut secara keseluruhan karena racun tetap mengendap pada darah dan merusak atau mengganggu kerja organ lain. Akibat lainnya adalah hati menolak darah yang mengalir sehingga tekanan darah menjadi tinggi dan pecahnya pembuluh darah.
Rusaknya fungsi hati atau liver ini dapat disebabkan karena seseorang mengkonsumsi alkohol secara berlebihan atau karena termakan racun yang membebani kerja liver dan mengakibatkan fungsi hati menjadi rusak. Tetapi, pada kebanyakan kasus, hepatitis disebabkan oleh virus yang ditularkan penderita hepatitis.

TERAPI GIZI PADA PENDERITA HEPATITIS

Diet khusus bagi penderita hepatitis dalam jumlah yang optimal membantu penyembuhan luka pada sel-sel hati dan memulihkan kekuatan hati. Selain itu, dapat meningkatkan regenerasi sel-sel hati yang rusak, memperbaiki penurunan berat badan akibat kurang nafsu makan, mual dan muntah, mencegah katabolisme protein, mencegah atau mengurangi ascites, dan koma hepatik.

Dalam diet Hepatitis mencakup pemenuhan zat-zat gizi yang diperlukan tubuh, seperti :

  1. Kalori dalam jumlah yang tinggi untuk mencegah pemecahan protein yang diberikan bertahap sesuai kemampuan penderita hepatitis. Kalori diberikan dalam jumlah tinggi karena adanya demam dan diperlukan untuk proses regenerasi jaringan serta untuk menambah persediaan tenaga. Kebutuhan kalori bersifat individual sehingga perlu perhitungan khusus.
  2. Protein perlu diberikan dalam jumlah yang tinggi agar dapat memperbaiki jaringan hati yang rusak dan mempertahankan fungsi-fungsi utama tubuh. Selain itu, protein merupakan agen lipotropik yang merubah lemak menjadi lipoprotein  agar dapat keluar dari hati untuk mencegah perlemakan hati.

Tubuh membutuhkan protein untuk melawan infeksi . Menurut. John D. Scott, MD, asisten kepala Hepatitis and Liver Clinic di Harborview Medical Center, menyarankan kepada pasien hepatitis C kronis, yang juga mengidap sirosis, untuk mengonsumsi setidaknya 6 ons protein per hari bagi pria dan 4-5 ons per hari bagi wanita. Sumber protein yang baik untuk tubuh bisa didapat dari daging ayam, ikan, daging sapi tanpa lemak, tahu, kacang-kacangan, susu, yogurt dan telur.

  1. Pemberian lemak sesuai kondisi penderita hepatitis. Jika ada gangguan pencernaan lemak/steatorhea dan mual, gunakan lemak dengan asam lemak rantai sedang (Medium Chain Triglyserida) karena jenis lemak ini tidak membutuhkan aktivitas lipase dan asam empedu dalam proses absorpsinya. Selain itu, pemberian lemak harus dikurangi tetapi pembatasan terlalu ketat tidak dianjurkan karena akan mengurangi kelezatan makanan sehingga akan menurunkan nafsu makan. Lemak diberikan  yang mudah dicerna atau dalam bentuk emulsi.
  2. Asupan Natrium diberikan dalam jumlah yang rendah, tergantung tingkat edema dan ascites
  3. Selain makanan, perlu suplemen B kompleks, vitamin K (untuk mencegah perdarahan), vitamin C dan Zink untuk mempercepat penyembuhan.
  4. Penambahan vitamin A dan D yang berlebihan sangat tidak dianjurkan karena akan memperberat fungsi hati yang sakit
  5. Cairan diberikan lebih dari biasa, kecuali bila ada kontraindikasi.
  6. Bentuk makanan lunak bila ada keluhan mual dan muntah, atau makanan biasa sesuai dengan kemampuan saluran cerna.

Jenis Diet Hepatitis dan Indikasi Pemberian                                      

  1. Diet Hati 1

Diet golongan ini diberika pada penderita hepatitis akut yang kesadarannya menurun, tetapi masih dapat makan. Menu diet golongan 1 biasanya tidak mengandung protein, melainkan terdiri dari makanan berkarbohidrat sederhana, seperti sari buah, sirup atau teh manis. Pemenuhan gizi yang lain diberikan lewat nutrisi parenteral (infus).

  1. Diet Hati 2

Menu diet hati 2 diberikan pada penderita yang telah melewati fase akut. Umumnya nafsu makannya sudah membaik, tetapi fungsi hati belum normal. Oleh karena itu, jumlah protein yang diberikan harus dibatasi 0,5 g/kg BB (kurang lebih 30 gr/hari). Melihat keadaan pasien, makanan diberikan dalam bentuk cincang atau lunak. Formula enteral dengan asam amino rantai cabang (Branched Chain Amino Acid/ BCAA) yaitu leusin, isoleusin, dan valin dapat digunakan. Bila ada aites dan diuresis belum sempurna, pemberian cairan maksimal 1 liter/hari. Untuk menambah kandungan energi selain makanan per oral juga diberikan makanan parenteral berupa cairan glukosa.

  1. Diet Hati 3

Penderita telah pulih nafsu makannya. Dalam kondisi ini pemberian protein dapat ditingkatkan menjadi 1 g/kg BB. Ketentuan lain mengenai penyusunan menu diet ini sama dengan diet hati 2. bentuk makanan tergantung kesanggupan penderita. Apakah dapat menerima jenis makanan biasa atau lunak.

  1. Diet Hati 4

Menu diet ini sesuai untuk pasien yang berada dalam tahap penyembuhan. Menurut kesanggupan pasien, makanan diberikan dalam bentuk lunak biasa. Makanan ini mengandung cukup energi, protein, lemak, mineral, dan vitamin tapi tinggi karbohidrat. Menu harus memiliki energi dan protein cukup tinggi. Ini berguna untuk mnegejar ketertinggalan kecukupan gizi selama sakit dan mengganti jaringan-jaringan yang rusak. Jumlah minimal pemberian protein adalah 2 g/kg berat badan, konsumsi lemak tetap harus dibatasi (sekitar 20-50 gr/hari), serta vitamin dan mineral diberikan secukupnya.

Jenis Makanan yang Dianjurkan untuk Penderita Hepatitis

a      Sumber hidrat arang seperti nasi, havermout, roti putih, umbi-umbian.

b      Sumber protein antara lain telur, ikan, daging, ayam, tempe, tahu, kacang hijau, sayuran dan buah-buahan yang tidak menimbulkan gas.

c      Makanan yang mengandung hidrat arang tinggi dan mudah dicerna seperti gula-gula, sari buah, selai, sirup, manisan, dan madu.

Jenis Makanan yang dibatasi, dihindari bagi Penderita Hepatitis

Bahan makanan yang dibatasi untuk diet hati adalah

dari sumber lemak, yaitu semua makanan dan daging yang mengandung lemak dan santan serta bahan makanan yang menimbulkan gas seperti ubi, kacang merah, kol, sawi, lobak, ketimun, durian dan nangka.

Bahan makanan yang tidak dianjurkan untuk diet hati adalah makanan yang mengandung alkohol, teh atau kopi kental.

Beberapa pantangan yang harus dihindari antara lain :

  • Semua makanan yang mengandung lemak tinggi seperti daging kambing dan babi, jerohan, otak, es krim, susu full cream, keju, mentega/ margarin, minyak serta makanan bersantan seperti gulai, kare, atau gudeg.
  • Makanan kaleng seperti sarden dan korned.
  • Kue atau camilan berlemak, seperti kue tart, gorengan, fast food.
  • Bahan makanan yang menimbulkan gas, seperti ubi, kacang merah, kol, sawi, lobak, mentimun, durian, nangka.
  • Bumbu yang merangsang, seperti cabe, bawang, merica, cuka, jahe.
  • Minuman yang mengandung alkohol dan soda.

 Komplikasi Jika Penderita tidak Menjalankan Diet Hepatitis

Komplikasi-komplikasi yang apat ditimbulkan jika penderita hepatitis tidak menjalankan diet sesuai indikasi maka kerja dari hati untuk memetabolisme makanan akan semakin berat dan fungsi dari hati tidak kunjung membaik. Kerja hati yang memberatkan dapat menimbulkan komplikasi hepatitis lainnya, jika perjalanan penyakitnya memanjang hingga 4-8 bulan maka keadaan berubah menjadi hepatitis kronik persisten. Kemudian akan mengalami hepatitis agresif atau kronik aktif, dimana terjadi kerusakan hati seperti digerogoti dan perkembangan sirosis. Akhirnya, suatu komplikasi lanjut dari suatu hepatitis yang cukup bermakna adalah perkembangan karsinoma hepatoseluler

Dalam melaksanakan diet ini bersifat individual atau sangat bergantung pada kondisi kesehatan seseorang sehingga perlu berkonsultasi langsung dengan ahli gizi dan dokter. Selain diet, faktor lingkungan sangat berperan dalam pencegahan penyakit hepatitis seperti menjaga kebersihan makanan dan alat makan yang menjadi media penularan hepatitis. Oleh karena itu, untuk mengurangi resiko terkena hepatitis, sebaiknya kita dapat menerapkan pola hidup sehat seperti tidur minimal 8 jam sehari, berolahraga secara teratur, mengurangi stress, menjaga kebersihan makanan dan alat makan, makan makanan bergizi dalam jumlah seimbang sesuai kebutuhan dan menjaga hubungan sosial.

Mengubah kebiasaan makan memang bukan perkara mudah. pastinya harus punya kemauan. Namun, jika itu bisa memberikan efek positif pada kesehatan, kenapa tidak dicoba? 

 

 

 

Komentar

Belum ada komentar

Tulis Komentar